Critical Eleven: Cinta 11 Menit Pertama pada Tukang Minyak

Critical Eleven

Spesifikasi buku
Judul : Critical Eleven
Penulis : Ika Natassa
Desain sampul : Ika Natassa
Editor : Rosi L. Simamora
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-602-03-1892-9
Tebal : 344 halaman

Skor: 5/5

Sinopsis:

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It’s when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it’s kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

**********************************************************************************************************************************************

Pembaca beruntung ke-789 dari 1111

Sebelum memulai review ini, mungkin ada baiknya saya minta maaf ke puluhan ribu penggemar Kak Ika karena saya termasuk dalam 1111 orang beruntung yang dapet PO Critical Eleven padahal saya belum pernah baca satupun karya Ika Natassa sebelumnya. Jadi….. maaf ya yang jatah PO nya diambil saya hehehehehe 🙂 🙂 🙂

Cerita preorder lengkapnya sudah saya tulis di sini: https://www.google.com/amp/s/natashaariska.wordpress.com/2015/08/25/curhat-pre-order-resensi-buku-critical-eleven-by-ika-natassa/amp/

PO CE

Buku Preorder Critical Eleven ke-789

Secara kebetulan, buku PO Critical Eleven tiba saat saya dalam masa Praktik Kerja Lapang (PKL) di PT. Aerofood Indonesia. Itu lho, katering pesawat yang kantornya di sebelah Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta. Melihat situasi yang cukup mendukung, saya memutuskan untuk membaca buku Critical Eleven di tempat PKL sambil menunggu jam masuk kantor atau saat istirahat makan siang. So, literally I read a novel about flight at the airport.

Love at A First Sight

Saya termasuk orang yang percaya dengan kalimat “Don’t judge the book by its cover”. ‘Book’ di sini maksudnya secara denotasi. Alasannya; saya pernah berkali-kali zonk membeli buku yang covernya cukup menarik tapi ternyata malah gak suka dengan ceritanya. Karena terlanjur gak suka dan dipaksain baca juga percuma, akhirnya buku-buku itu pun berpindah tangan ke temen-temen saya tanpa pernah saya selesaikan.

Jujur, saat PO Critical Eleven saya juga sempat ragu. Iseng banget kan, belum pernah baca buku penulisnya dan ga tau gaya nulisnya kayak gimana, malah sok-sok an ikut rebutan PO dengan hanya bermodalkan baca tweet Ika Natassa dan lihat teaser di Instagram… oh ya dan duit buat beli buku pastinya.

Tapi akhirnya buku Critical Eleven sampai juga ke tangan saya. Yay!

Kesan pertama yang saya dapat adalah cover bukunya kece bangeeeeeet!!! Saya suka dengan ilustrasinya; yang dilukis sendiri oleh Kak Ika, dan bahan kertas covernya yang berbeda dari buku-buku pada umumnya. Kalau ada istilah love at a first sight (and touch, maybe) buat sebuah buku, mungkin saya akan pake istilah itu. Seriously guys, my 79k rupiahs (dan ongkir 7ribu) is really worth it for this book!

Had No Idea

Balik lagi, apa iya cover yang kece badai bisa menjamin isi ceritanya juga demikian?

And the answer is: yes, it is.

Kalau membaca dari sinopsisnya, buku ini bercerita tentang seorang wanita bernama Anya yang bertemu Ale di pesawat menuju Sydney, Australia. Lalu, lima tahun kemudian terjadi suatu tragedi besar yang menguji hubungan mereka.

Selesai.

Tidak ada bocoran sama sekali tentang inti cerita. Di titik ini pun saya sudah dibuat kesal oleh Critical Eleven. Ada apa sih? Buku ini nyeritain apa sih? Mau dibawa ke mana kisah Anya dan Ale ini?

Jadi saya pun membaca buku Critical Eleven dengan kumpulan pertanyaan memenuhi isi kepala. Saat akhirnya saya mengetahui tragedi apa yang terjadi di antara Ale dan Anya, saya hanya bisa ber- “ooooooooooohhhhhhh” ria karena sama sekali ga kebayang ceritanya bakal kayak gini. Asli, ga akan kebayang kalo cuma baca sinopsisnya! I absolutely had no idea. You got me there, Kak Ika!

Tujuan Itu Bernama ALE

Setiap memegang boarding pass, aku merasa hidupku akhirnya punya tujuan, walau tujuannya hanya berupa tiga huruf. CGK, SIN, ORD, TTE, HKG, LGA, EWR, NRT. Boarding pass is my mission statement in life.

– Anya (Critical Eleven hal. 6)

Saya suka memperhatikan hal-hal detail yang Kak Ika sisipkan di buku ini. Misalnya tentang Anya yang kesulitan menemukan tujuan hidup dan menghubungkannya dengan tujuan di boarding pass yang terdiri dari tiga huruf. Then suddenly she found her goal: ALE.

Hmm sebenarnya saya kepikiran ini karena bonus luggage tag PO yang bertuliskan ALE sih 🙂 🙂 🙂

Our guy: Ale Si Tukang Minyak

Sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap novel Ika Natassa pasti memiliki karakter our kind of guy yang kadang lebih menarik daripada isi novelnya sendiri. A Very Yuppy Wedding ada Adjie, Divortiare – Twivortiare 1 & 2 ada Beno, Antologi Rasa punya Harris, dan the new dude; River di Architecture of Love.

And we got Aldebaran Risjad a.k.a. Ale in Critical Eleven! Our offshore operation engineer atau simpelnya, Tukang Minyak.

Hey, don’t gimme that look! It’s him who called himself as ‘Tukang Minyak’ first. Not me!

Menurut saya, sosok Ale telah berhasil mencuri hati saya sejak bab pertama. If I should say in dramatic way: saya hanya butuh 11 menit sejak membuka lembar pertama Critical Eleven untuk jatuh cinta pada seorang Ale.

Pokoknya, Ale mampu membuat saya menahan diri sekuat tenaga untuk tidak memanjat pagar kawat yang memisahkan area Loading Dock tempat PKL saya dengan Terminal 2 Bandara untuk berburu cowok buluan yang bawa koper Rimowa!

(Dulu Terminal 3 Ultimate belum jadi 🙂 🙂 )

Penasaran dengan Ale? Baca aja sendiri!

Reasons to Love Critical Eleven

Kisah Ale dan Anya ini mungkin banyak dialami oleh pasangan-pasangan lain di kehidupan nyata. Saat membacanya pun saya berpikir cerita ini sangat realistis, bukan tipe cerita drama ajaib yang bikin kita mengernyitkan dahi dan bilang “Wew, gak masuk akal. Ngayal banget!”. Satu poin untuk Critical Eleven!

POV Ale dan Anya yang ditulis bergantian di buku ini membuat saya lebih memahami karakter masing-masing lewat cara mereka bercerita dan menyampaikan isi hatinya ke pembaca. Yang mengganggu sih paling karena saya harus bersusah payah menahan luapan air mata (saya baca CE di tempat PKL, ingat?) pada beberapa halaman. Serius deh, seharusnya ada semacam peringatan di covernya: Dilarang membaca buku ini di ruang publik!

I also adore how Kak Ika wrote some flashbacks here. Saya justru lebih jatuh cinta dengan potongan-potongan flashback nya daripada inti ceritanya sendiri. Flashback nya membuat ceritanya semakin hidup dan sama sekali ga mengganggu jalannya cerita. Bagian flashback favorit saya yaitu saat Ale beli cincin, semua yang terjadi di Benhil (hayooo ada apa???), dan detik-detik pernikahan Ale & Anya. Kalau disuruh story telling tentang Critical Eleven 10 tahun mendatang, mungkin bagian-bagian itu yang paling saya ingat.

Still need another reason to love Critical Eleven? Saya suka dengan sisipan quotes yang ada di buku ini; simpel tapi ngena dan nempel terus di otak. Mungkin pembaca lain juga berpendapat sama, tapi bukan quotes cinta-cintaan yang jadi favorit saya (seperti yang ditweet atau dicaption instagram orang-orang), melainkan quotes yang jarang dilirik pembaca yang justru menarik perhatian saya.

Misalnya saat Anya membicarakan tentang toko buku yang membuat saya termenung sejenak dan berkata, “Ah benar juga!”

Izin ngutip quote kamu buat Instagram caption ya, Nya!

Last but not least, I also love how Jakarta being mentioned in this book.

When you’ve lived here almost all your life, you sometimes forget how powerful Jakarta is. It changes people, it breaks people, it makes people, it shifts values, every single second it comes in touch with them. Jakarta sedemikian kuatnya, sehingga siapa pun yang pernah bersentuhan dengannya tidak akan pernah jadi orang yang sama lagi. Jakarta membuat semua yang ada di dalamnya harus meredefinisikan semua tentang diri mereka sendiri. Meredefinisi makna rumah, makna keluarga, hubungan, makna waktu. Redefining what matters, and what doesn’t.

Ada yang bilang Jakarta itu, jika diibaratkan dalam sebuah hubungan, adalah seperti pasangan yang abusive, yang selalu menyiksa, yang membuat kita berulang kali mempertanyakan arti kasih sayang dan cinta, yang menguji kesabaran setiap kali dia memukul kita berulang-ulang, but yet we stay. Yet we don’t leave.

(Critical Eleven hal. 143)

Di antara puluhan quotes yang bertebaran di buku ini, dua paragraf itu mungkin yang paling menarik perhatian saya. Why? Because, as a girl who born and lived in Jakarta for 22 years; those paragraphs are so much related to me. Saya tidak pernah menyadari jika pengaruh Jakarta itu sedemikian kuatnya sampai saya melanjutkan kuliah di Unpad. Walaupun Jakarta itu lebih sumpek, panas, berdebu, berisik, dll. dibandingkan lingkungan kampus saya, tetap saja tiap Jumat sore setia menunggu bis tujuan Jakarta untuk kembali ke rumah. Semuanya demi kembali ke Jakarta. Tidak peduli sekeras apa kota Jakarta, saya tetap tidak bisa lepas darinya.

Yup. “…but yet we stay. Yet we don’t leave.”

Lah curhat.

Baiklah, karena saya mulai curhat, saya sudahi saja bahasan ini. Jadi sudah jelas kan, anggapan “Don’t judge a book by its cover” ternyata tidak berlaku untuk Critical Eleven. Covernya yang keren benar-benar menggambarkan isi ceritanya yang gak kalah bagusnya. Terlepas dari akhir ceritanya yang udah ketebak pasti happy ending, boleh lah kasih 5 bintang buat buku ini. 5 bintang atas kesuksesannya memberikan sensasi roller coaster di setiap babnya dan membuat saya jatuh cinta dengan semua elemen yang ada di Critical Eleven.

Saat menulis resensi ini, saya telah membaca A Very Yuppy Wedding, Antologi Rasa, Divortiare, Twivortiare 1 & 2, dan Architecture of Love, tapi saya tetap mengklaim Critical Eleven sebagai novel Ika Natassa favorit saya. Alasannya tentu saja karena pengalaman  preorder dan perasaan membaca Critical Eleven yang belum saya temukan di buku-buku lain.

Who I reccomend this book to

Saya merekomendasikan buku ini untuk mereka yang menyukai kisah romantis; terutama penggemar metropop garis keras, penduduk Jakarta yang ingin melihat sisi romantis ibukota, dan semua orang yang ingin merasakan mencintai dan dicintai dengan tulus. Men or women doesn’t matter. Tapi mungkin ada age-strict untuk yang masih di bawah umur hehehe.

(Soon To Be) Movie of The Year

Februari 2016 lalu, Kak Ika memberi tahu bahwa Critical Eleven akan difilmkan. Saya pun mulai kepo sana-sini demi mendapat bocoran tentang filmnya; terutama info pemeran Ale dan Anya. Then I got a feeling Adinia Wirasti would be in it. Soalnya Kak Ika udah sering kode keras dari tahun lalu lewat tweets nya.

fullsizerender1

fullsizerender2
So, when the official poster came out, I freaked out a little because I was right about ‘Adinia as Anya’ thing hahahaha.

poster-ce

Official Poster Critical Eleven The Movie

It’s official! Reza Rahadian as Ale & Adinia Wirasti as Anya! 😀

Hmm kalau tentang Reza yang berperan sebagai Ale, agak ketebak juga sih karena Kak Ika sering banget ngomongin film Kapan Kawin, yang juga filmnya Adinia Wirasti hehehe. 
Harapan saya untuk film Critical Eleven yaitu semoga filmnya nanti tidak kehilangan sensasi ‘roller coaster’ dari bukunya (yang sepertinya tidak perlu saya khawatirkan karena skenarionya ditulis oleh Jenny Jusuf 🙂 🙂 ), lagu soundtrack nya bagus-bagus, yang jadi Harris musti ganteng, dan semoga banyak adegan favorit saya yang difilmkan hehehe 😀 

Udah ga sabar banget nunggu film Critical Eleven  ditayangkan di bioskop seluruh Indonesia! Semoga saya kebagian tiket premiernya nanti biar bisa foto bareng Kak Ika lagi + cast film Critical Eleven!!!

img_1261

Got my Critical Eleven Signed for the 2nd times at Kompas Gramedia Book Fair 2015

Advertisements

Leave a comment

Filed under book, Review

Nonton ONE PIECE MOVIE GOLD

Cerita dimulai dari Gran Tesoro, sebuah negara independen yang diperintah oleh World Government, adalah tempat tinggal para pembajak yang terkenal, tentara, dan jutawan dari seluruh dunia berkumpul di lingkungan yang terlindung, bahkan dari World Government. Di sana, Straw Hat Pirates bertemu penguasa negara itu, Gildo Tesoro si kaisar emas, yang dengan mudahnya bisa membayar para pembajak, tentara, bahkan anggota World Government untuk berpihak padanya. Ia berniat mengambil sebuah tindakan untuk memuaskan ambisinya, yang berpotensi mengubah struktur kekuasaan di Dunia Baru.

***************************

Gimana? Tertarik nonton? Okay, let me start my review now.

Gue nonton Gold tepat di hari pertama rilis di CGV Blitz BEC, Bandung. FYI, OP Movie Gold ini hanya ditayangkan di CGV Blitz dan Cinemaxx. Gue milih nonton di sini karena harga tiketnya termasuk murah untuk ukuran Blitz (yeah, I said it: money matters). 

Gue membeli tiket untuk show jam ke-2 (14.40) dan FULL HOUSE!!! Warbyasak! Gue nonton bertiga, cewek semua, dan kami diapit cowok-cowok satu deret full. Oke. Sip.

So how is it?

Gokil.

I spent my 120 minutes for a wonderful masterpiece!!!

Oke itu lebay tapi bener deh, movie Gold super keren!!!

Nih ya, di awal film kita langsung disambut animasi colorful dengan dominan emas (pastinya) dan scoring yang megah. It’s very entertaining!!! Mevvah banget pokoknya!

I’ve watched all previous OP Movies and I think, judging from its opening, this one is the most entertaining OP movie so far!

Gara-gara ini gue jadi sedikit menyesal karena hanya nonton Gold di studio 2D (di Blitz BEC hanya ada studio 2D). Seriously guys, kalau kalian punya uang lebih dan ingin menikmati movie Gold lebih maksimal, coba nonton di studio 4DX. Worth it banget!

Oke, balik lagi. Secara keseluruhan, gue suka movie Gold. Walaupun ada hal yang mengganggu gue seperti latar waktu film ini.

Berdasarkan dialog pada awal film, Gold mengambil setting waktu setelah Arc Dressrosa, dan mungkin setelah Arc Zou juga karena Straw Hat Pirates (SHP) sempat terpecah saat di Dressrosa.

Tapi.

Kenapa.

Ada.

Sanji.

Ah sudahlah, yang penting filmnya asik. Itu aja sih yang mengganggu hahaha.
Selain itu, kalau kalian jeli, ada clue yang di awal cerita yang menjelaskan siapa Gild Tesoro ‘sebenarnya’. Jadi, udah ketauan deh apa masalah si Tesoro sampe dibuatlah film ini.

Kasih tau gak ya……. Euuummm.

Jangan deh, nanti gue di blacklist persatuan OP loverz se-Indonesia hahaha.

Tapi bener guys, jelas banget clue nya. Temen gue juga nyadar pas nonton, “Sya, itu kayaknya Tesoro tuh dulunya….” 
Apa hayoooo 🙈🙈🙈

Sayangnyaaa masalah si Tesoro ini ga terlalu dibahas kayak si Z di movie Z dulu. Cuma sekilas asal tau. Pdhl bisa jadi mellow kalo dibahas 😢

But it’s fine. Mungkin karena movie Gold memang difokuskan ke cerita yang fun saja. Well, Gran Tesoro yang mevvah ini tidak perlu lah dinodai oleh derai air mata :)))

Gold is all fun, trust me. Gue berkali-kali ketawa bahkan di bagian yang (entah kenapa) orang lain gak ketawa.

Misalnya waktu ada kura-kura berotot. Jadi, semua mobil di Gran Tesoro dikendarai menggunakan tenaga kura-kura mungil sebagai mesinnya. Saking seringnya diberdayakan, kura-kura ini sampe berotot. Ngeliat muka para kura-kura yang jadi budak manusia ini antara lucu dan kasihan sih, tapi…. GUYS, YOU MUST SEE THEM! KURA-KURANYA BENERAN LUCUK DAN YANG KETAWA CUMA KAMI BERTIGA.

Oh Oda Sensei, mengapa selera humor kami berbeda?

Yang lebih epic yaitu saat kami menemukan figuran-figuran yg pernah muncul di OP kayak Wanze CP7 (Arc Water 7) & Absalom (Arc Thriller Bark). Figuran ini maksudnya yang muncul sekilas & ga berhubungan dengan SHP secara langsung ya.

Beneran ini asal lewat doang, tiba-tiba 5 detik ada Absalom, terus ilang. Kayak orang numpang lewat di sinetron gitu.

Kalau figuran yang “agak keliatan” sih ada Sabo, Koala, Akainu, Spandam, Rob Lucci…. Wait ini spoiler bukan? 😂😂😂 Relax, mereka ga penting kok hehehe.

Anyway, movie Gold ini punya batasan umur. Penonton harus 17 tahun ke atas. Well, the 17+ thing is irritating me, tho. Dude, gue nonton One Piece dari masih tayang di RCTI sampe sekarang & nothing’s wrong with those women’s body parts. It’s natural, penciptanya cowok yang suka cewek cantik, pasti banyak cewek-cewek yang digambar dengan body begitu (dan itu sebabnya juga susah banget nemu cowok ganteng di OP).
Oh ya, I don’t know if these are spoilers or not: ada hal-hal sepele yang selalu ada di OP dan ga ada di film ini.

1. Luffy, you know Luffy, untuk pertama kalinya sodara-sodara, tidak mengacaukan plan Nami!!! Plan SHP sukses tanpa hambatan, yay!

2. Kalian ga akan liat Zoro nyasar di film ini….. which is disappointing. Kecewa, ‘Zoro Nyasar’ itu part yg paling gue tunggu2 di semua arc OP hahaha 😢😂

Endingnya, well dude it’s OP, when you hope things would get worse, lol it’d not! Semuanya baik-baik saja lalala yeyeye

That’s why I’m not focused on the ending but process! Isi ceritanya lebih asik daripada hanya menanti endingnya.

So, I give 8,5 out of 10 for One Piece Movie Gold.

Surprise nya kurang…. banget karena sedikit ketebak di awal. Next movie, maybe? 😉

Gue ga merekomendasikan Gold untuk newbie. Oke, minimal lo udah baca/nonton OP sampai Arc Dressrosa, then you may watch.

Dressrosa is the 17th season (dari gugel, w bukan expert 😂). So for those who haven’t reach there, good luck!
Bukan bermaksud mendiskriminasi newbies (I’m not an expert either!), tapi gue khawatir ada yang masih bingung waktu nonton ini karena ceritanya masih berkaitan dengan Dressrosa arc.

Kan ga asik aja di tengah-tengah film nanya,

“Emang Doflaminggo kenapa?”

Atau

“Doflaminggo teh saha?”

Euh maneh aya-aya wae. Mau jelasin bisa-bisa filmnya kelar duluan.

Gue cuma menyarankan lho. Karena gue juga ngerasain kalau nonton tanpa tau apa-apa itu ga enak banget. Kayak waktu gue ikut-ikutan temen nonton Scorch Trials padahal belum nonton Maze Runner. Huft.

Belum lagi kalau ketauan sama otaku yang (ngakunya) expert banget. Beuh, bisa dikatain fans karbitan!

I actually hate those who think they’re expert. Judging other fans, especially newbies. Who’re you? Tenryuubito? Oda Sensei’s siblings?
Da gue mah apa atuh, baca OP dalam setahun juga kalau inget & ada kuota…. Juga kalo ga keburu dispoilerin sama twitter fenbes. Cedi 😥

Jadi, biarin lah. Semua orang punya caranya sendiri untuk suka dengan sesuatu. I have my own way. My friends have theirs too. But we don’t like to judge & being judged (by those experts!), so we can watch the movie together peacefully. That’s it.
Halah jadi curcol.

So guys, go get your tickets and watch One Piece Movie Gold now!

Leave a comment

Filed under Film, Review

AMSTERDAM AND PARIS TRIP 2016: Introduction

Hi, long time no see! Kali ini gue akan menulis blog perjalanan gue ke dua ibukota negara di benua Eropa yaitu Amsterdam dan Paris selama 8 hari. Holiday trip ini gue lakukan dari tanggal 7 Juli sampai dengan 16 Juli 2016. Yup, pas lebaran banget. Daripada stress bermacet-macet ria gara-gara pulang kampung (yang ga akan gue lakukan juga tiap tahunnya karena eyang gue tinggal di Jakarta), mendingan kita cari destinasi yang bebas macet kan? Hey no offense, ini bisa jadi pilihan liburan yang asik dicoba oleh kalian lho hehehe.

 

NO TOUR GUIDE!

Salah satu hal yang paling kami hindari saat traveling: TOUR GUIDE. Why? Well, we simply don’t like someone ordering us around. Go here, go there, tomorrow there, no schedule for that place, no you can’t go there, shopping here… Ugh, not so us. It’s our journey, let us having our own holiday stories that others can’t have! Jalan, baca peta, cari tempat tujuan, cari nomor bus, cari tempat makan, interaksi, banyak tanya, dll. Not that scary kok, paling nyasar-nyasar dikit (yeah, gue bisa balik lagi ke Indonesia dengan aman sejahtera, kan?).

Keuntungan solo traveling, kita jadi bisa menghapal jalan, tempat-tempat tertentu, alat transportasi, dll. Maybe at some point we can also become citizens. Kalau bingung mau pergi kemana aja, tinggal googling, baca-baca blog orang yang pernah jalan ke sini. Those blogs can be very helpful, ya know. I printed some and read them on airplane on the way to Amsterdam hehehe. Lumayan mengisi waktu luang di pesawat selain nonton The Jungle Book, nonton Allegiant, dan tidur. Gue juga membeli buku traveling Eropa, yang akhirnya tidak terpakai karena buku itu hanya mencantumkan nama dan alamat tempat wisata yang ada di berbagai negara Eropa, tapi tidak ada keterangan bagaimana cara ke tempat tersebut (harus naik transportasi apa).  Huff, I might sue its editor then. Penulisnya harus les privat nulis buku traveling sama Claudia Kaunang nih.

Anyway, let’s get started, shall we? Selamat ikut jalan-jalan ke Amsterdam dan Paris lewat blog gue!

 

DEPARTURE

Kami sekeluarga berangkat dari bandara Soekarno-Hatta dengan pesawat Garuda Indonesia GA 088 menuju bandara Schiphol di Amsterdam, Belanda. Penerbangan dengan GA 088 Jakarta – Amsterdam hanya memakan waktu 14 jam karena tidak melakukan transit di Dubai seperti pesawat lain pada umumnya. Walaupun begitu, pesawat tetap transit di bandara Changi, Singapura selama 1 jam. Well, lumayan lah 1 jam merenggangkan kaki sebelum ‘dipaksa’ duduk di dalam pesawat 11 jam ke depan. Toh waktu yang ditempuh tetap lebih cepat kan (dengan pesawat lain bisa 16 jam perjalanan).

Pesawat tujuan Jakarta – Amsterdam, GA 088 dan GA 089, beroperasi setiap hari kecuali hari Selasa.  Waktu boarding GA 088 dari bandara Soekarno-Hatta pukul 21.45 WIB, tiba di bandara Changi kira-kira pukul 12 malam waktu setempat (lebih cepat 1 jam daripada waktu di Jakarta), lalu jalan-jalan syantiek di bandara Changi ±1 jam, boarding lagi menuju Amsterdam hingga akhirnya landing di bandara Schiphol keesokan harinya, 8 Juli 2016 pukul 6 pagi waktu setempat (lebih lambat 5 jam daripada waktu di Jakarta). Jam 6 pagi, waktu yang pas buat langsung berkeliling kota Amsterdam, bukan? This option is kinda simple btw buat kalian yang mau traveling ke Eropa. Terbang dulu ke Amsterdam, selanjutnya baru deh menjelajah negara-negara di sekitarnya (tidak, saya tidak dibayar buat promosi pesawat Garuda kok, unfortunately L).

 

BIRTHDAY ON THE AIR

One thing I got pretty excited about? We departed on 7th!!! It means by 8th midnight I’ll spend my 22nd birthday in airplane! Well, sebenarnya saat kami transit di bandara Changi sih udah ganti hari, tapi kalau mengikuti waktu Jakarta kan belum J J J. It’s the first time I experienced this kind of birthday hehehe, and if I’m not mistaken, it’s  probably the longest birthday I’ve ever had! Ulang tahun duluan di Singapura, sejam kemudian baru di Jakarta, di pesawat 11 jam, sampai di Amsterdam masih ada 18 jam lagi ke hari berikutnya. In short, I spent 30 hours for my birthday this year. LOL!

 

WELCOME TO SCHIPHOL INTERNATIONAL AIRPORT

“I’m one of those weird people who loves airports. There’s just something liberating yet soothing about it.”

– Tanya Laetitia Baskoro Risjad, lead character in Critical Eleven novel by Ika Natassa

By the time I landed at Schiphol Airport, I agreed with Anya. I love Schiphol Airport. Crowded yet well-organized. Yang paling gue suka, Schiphol itu seperti menjadi bagian dari kegiatan warga Amsterdam, bukan hanya untuk orang yang ingin naik pesawat. Misalnya ada supermarket semacam Alfamidi bernama Albert Heijn Supermarkt. Yeah right, banyak warga Amsterdam yang sengaja ke bandara cuma beli sayur mayur, bumbu dapur, dll macem kita ke Alfamidi aja.

Selain itu, tidak seperti bandara Soekarno-Hatta yang sulit dijangkau angkutan umum (hanya bisa taksi, travel, damri, dan bus primajasa. kereta saja masih dalam proses), bandara Schiphol sangat mudah dijangkau dengan kereta dan bus umum dari berbagai destinasi (Schiphol itself sometimes not even the main destination). Bahkan keberadaan taksi pun sepertinya tidak diperlukan. Wah kalau di bandara Soekarno-Hatta, taxi is a must, right? Keluar dari pintu arrival saja sudah ada taksi berjejer dengan berbagai kasta (eksekutif sampai tarif standar).

Kalau di bandara Schiphol, keluar dari pintu arrival langsung disambut halte bus berderet panjang hingga ujung bandara. Tinggal tunggu busnya di halte sesuai dengan nomor bus tujuan kita yang ditampilkan di tv (nomor bus disertai tujuan akhir dan waktu tiba, lengkap!). Beres!

Tunggu dulu! Sebelum pergi dari bandara Schiphol ada ritual wajib yang biasanya dilakukan oleh turis (terutama turis Indonesia) yaitu berfoto di depan plang Schiphol International Airport yang berada tepat di pintu arrival. Cekrek!

Next? Masih ada ritual lagi! Kalau kita keluar dari pintu utama arrival (yang ada plang Schipol International Airport, yang barusan kalian foto-foto itu), kita akan melihat I Amsterdam statue berwarna orange yang berjarak kira-kira 5 meter dari situ. Katanya sih, belum sah mengunjungi Amsterdam kalau belum berfoto di depan I Amsterdam statue. Oke, another spot to take a selfie, cekrek!

Got some photos? Good, kita bahkan belum beranjak dari bandara lho. Yuk, berangkat!

 

APDET PATH DULU PLEASE!

Iya, iya…. sayang kan udah foto keren-keren tapi ga dipamerin? Don’t worry, bandara Schiphol dengan baik hati menyediakan fasilitas wifi gratis selama 4 jam hehehe. Silakan apdet lah kalian sepuasnya. Masih kurang juga? Beli aja simcard lokal yang tersedia di toko handphone di dalam bandara. Ada berbagai macam provider, tinggal pilih sesuai kebutuhan. Saran gue sih, kalau kalian bukan businessman, diplomat, presiden, atau siapapun yang punya pekerjaan penting banget dan ga bisa lepas dari handphone sedetikpun, apalagi yang traveling nya cuma seminggu kayak gue, ga usahlah beli simcard, banyak wifi kok di mana-mana: bus, kereta, hotel, bahkan di jalanan pun ada kalau kita gigih nyarinya (gigih banget ya hahaha). Paling late post aja kalau mau apdet hehehe.

 

BELI SIMCARD PROVIDER APA DI AMSTERDAM?

“Tapi gue kan harus selalu apdet secepatnya, gak pake late post, harus FRESH!”

Hufff, yaudah deh, gue sekeluarga juga beli simcard kok. Cuma 1, buat nyobain aja hehehe. Nama providernya . Kami memilih provider tersebut karena kata orang Indonesia yang kami temui di pengambilan bagasi (ia sudah lama menetap di Belanda), sinyalnya cukup bagus. Kami membeli simcard yang sudah built-in paket internet. Ada berbagai macam paketnya dan yang kami pilih yaitu paket 700MB/bulan seharga €25.

Sip, foto ala ala udah, apdet udah, we’re all set!

 

TRANSPORT CARD, WHICH ONE TO USE?

Haduuuh…. kalian maen pergi-pergi aja, tunggu dulu! Emangnya naik bus mau bayar pake apa?

“Duit lah!”

Sok tau, kalau ada kartu turis ngapain pake cash?!

Yup, Amsterdam bisa dibilang kota yang cukup welcome dengan turis karena ada beberapa perusahaan penyedia kartu turis yang bekerjasama dengan berbagai moda transportasi seperti bus, tram, train, dan metro. Well, gue ga tau ada berapa macam persisnya karena gue hanya mencoba 2 jenis kartu turis yaitu kartu I Amsterdam (warna merah) dan Amsterdam Travel Ticket (warna biru). Masing-masing kartu memiliki kelebihan dan kekurangan. Jadi, tinggal kita yang harus pintar menyiasatinya.

Pertama, gue beli kartu I Amsterdam di kios I Amsterdam bandara Schiphol. Setelah nanya panjang lebar ke cewek penjaga kios yang agak judes (ini alasan mengapa gue bilang Amsterdam ‘cukup’ welcome dengan turis, penjaga kios tourist guide malah judes!), akhirnya kami membeli tiket I Amsterdam 24 hours seharga €13.50/tiket dan I Amsterdam City Map seharga €2.50 (yang malah tidak dipakai karena gede banget pas dibuka, bikin ribet liat petanya).

Oke, keuntungan kartu I Amsterdam 24 hours yaitu kita bisa naik transportasi bus, tram, dan metro semua jurusan di dalam kota Amsterdam. Kerugiannya, kita tidak dapat menggunakan kereta sama sekali. Ribet? Sedikit. Misalnya kita mau ke Amsterdam Centraal, pusat keramaian kota Amsterdam, dengan kereta kita hanya perlu naik sekali, cukup cepat, hanya butuh 15 menit kalau kita kebetulan naik kereta intercity (keretanya hanya berhenti di stasiun besar). Tapi, karena kita tidak bisa naik kereta, kita mau tidak mau harus naik bus no. 197 hingga tujuan akhir Amsterdam Leidseplein, lalu melanjutkan naik tram no. 16 tujuan akhir Amsterdam Centraal, yang pastinya memakan waktu lebih lama. Yeah, it’s okay if we took the bus and tram, since we’re not in hurry. Bisa lihat bangunan-bangunan cantik khas kota Amsterdam dari balik kaca hingga ke tempat tujuan gak rugi-rugi banget kok.

Kartu kedua, Amsterdam Travel Ticket, gue beli setelah pulang dari Paris. Kartu jenis ini kami beli tidak sengaja (belum tahu kalau ada jenis kartu turis selain kartu I Amsterdam) di stasiun Sloterdijk. Kalau penjaga kios I Amsterdam judes, penjaga loket Amsterdam Travel Ticket yang kami datangi ini sedikit ramah. Dia malah semangat banget menjelaskan macam-macam Amsterdam Travel Ticket yang tersedia (mungkin ia merasa tersaingi dengan kartu I Amsterdam yang kami tunjukkan hahaha). Ternyata Amsterdam Travel Ticket cukup praktis karena kartu ini menyediakan paket harian. Ada paket 1 Day seharga €15, 2 Days €20, dan 3 Days €25. Jadi lebih murah kalau mau pakai berhari-hari. Karena kami hanya di Amsterdam sampai lusa, kami membeli Amsterdam Travel Ticket for 2 days.

Keuntungan Amsterdam Travel Ticket yaitu bisa digunakan untuk naik kereta, tram, dan metro ke segala penjuru kota Amsterdam, yay train! Kerugiannya, bus yang kita naiki jadi terbatas. Hanya bus-bus tertentu yang bisa kita naiki menggunakan Amsterdam Travel Ticket.

“Yaaah lebih ribet dong, tau dari mana busnya bisa kita naiki?”

Ya, memang ribet awalnya, tapi kalau terbiasa jadi mudah kok. Simpelnya, perusahaan transportasi di Belanda itu ada banyak seperti Connexxion, EBS, GVB, NS, dan Arriva. Masing-masing mempunyai alat transportasinya sendiri, misalnya NS untuk kereta, Connexxion untuk bus. Namun tidak menutup kemungkinan perusahaan itu terbatas hanya satu jenis transportasi, misalnya GVB memiliki tram dan bus. Harus dihapal nomor busnya? Well, I won’t do that, ngapalin angkot Bogor aja masih belum bisa hahaha.

Just remember their logos because all of transportations have company logos on their bodies. Or simply their colors for the bus only. Bus Connexxion (misal bus no. 197) warnanya merah, Bus GVB (misal bus no. 69 jurusan Airport – Sloterdijk) warnanya putih

*Will insert a table here soon*

 

Okay, the intro ends here. Please enjoy reading my next posts about this trip!

P.S. This post is part of my 30 Days of Writing Challenge I set for my own on August 2016.

Leave a comment

Filed under Trip

Career of Evil: Mimpi Terburuk Cormoran Strike

career of evil

Judul: Career of Evil (Titian Kejahatan)
Penulis: Robert Galbraith
Alih bahasa: Siska Yuanita
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal:  552  halaman
Cetakan pertama: April 2016

Format: Paperback

Skor: 4.5/5

Sebuah paket misterius dikirim kepada Robin Ellacott, dan betapa terkejutnya dia ketika menemukan potongan tungkai wanita di dalamnya. Atasan Robin, detektif partikelir Cormoran Strike, mencurigai empat orang dari masa lalunya yang mungkin bertanggung jawab atas kiriman mengerikan itu-empat orang yang sanggup melakukan tindakan brutal. Tatkala polisi mengejar satu tersangka pelaku yang menurut Strike paling kecil kemungkinannya, dia dan Robin melakukan penyelidikan sendiri dan terjun ke dunia kelam tempat ketiga tersangka yang lain berada. Namun, waktu kian memburu mereka, sementara si pembunuh kejam kembali melakukan aksi-aksi yang mengerikan…

Setelah berhasil mengungkap pelaku pembunuhan Lula Landry dan Owen Quine di dua buku sebelumnya, Cormoran Strike kembali menunjukkan kemampuannya di buku ketiga; Career of Evil (Titian Kejahatan). Saya pun bertanya-tanya, topik apa lagi yang akan diangkat oleh Galbraith kali ini; apakah lebih mencekam daripada The Silkworm atau sedikit tenang seperti The Cuckoo’s Calling?

Kebetulan pada 3 April 2016 saya mengikuti acara Peluncuran Buku Career of Evil di Gramedia Central Park sehingga mendapat bocoran langsung dari penerjemah sekaligus editornya, Siska Yuanita. Di acara tersebut, ia menyebutkan bahwa masalah yang ada di buku Career of Evil lebih kompleks sehingga menjadikan buku yang diberi judul sama dengan judul lagu band Blue Öyster Cult ini lebih ‘gelap’ diantara yang lain. Bocoran yang terdengar cukup menjanjikan itu pun membuat saya berekspektasi tinggi pada Career of Evil.

Cerita ini berawal dari Robin; sekretaris Strike, yang mendapat paket misterius berisi potongan tungkai wanita yang dikirim ke kantor tempatnya bekerja. Yang lebih mengejutkan, tungkai itu ternyata tungkai kaki kanan yang dipotong tepat di bagian yang sama dengan kaki kanan Strike yang diamputasi, serta adanya pesan berisi potongan lirik lagu Mistress of the Salmon Salt milik band Blue Öyster Cult di dalam paket tersebut yang membuat Strike teringat dengan masa lalunya. Strike yang yakin bahwa tungkai itu sesungguhnya dialamatkan kepadanya pun mencurigai empat tersangka. Keempat orang tersebut yaitu orang-orang yang pernah memiliki hubungan buruk dengannya di masa lalu, termasuk ayah tirinya. Sementara polisi sibuk menyelidiki satu orang tersangka, Strike dan Robin menyelidiki tiga tersangka yang tersisa sambil terus dihantui oleh mimpi buruk akan masa lalu dan pembunuh yang masih bebas berkeliaran mengincar nyawa mereka.

Memang benar yang dikatakan kak Siska, buku ini punya efek membuat pembacanya stress. Banyaknya masalah yang dihadapi Strike dan Robin, ancaman si pembunuh yang makin menjadi, dan fakta gelap yang satu per satu mulai terungkap seolah menyeret pembaca untuk ikut merasakan teror yang dialami tokoh utama. Ditambah lagi, isi pikiran si pembunuh ikut disisipkan di tengah-tengah penyelidikan Strike dan Robin yang sengaja memberi tahu pembaca bagaimana cara berpikir seorang psikopat. Satu kata buat buku ini: SAKIT!

Secara keseluruhan, Career of Evil mampu melampaui ekspektasi saya. Saya menyadari bahwa tulisan Galbraith mengalami banyak peningkatan sejak buku pertamanya. Dari yang awalnya ‘hanya’ pembunuhan ringan, menjadi pembunuhan yang sadis dan menjijikan, dan kini meningkat menjadi pembunuhan yang tidak hanya memuakkan secara fisik tapi juga mental. Wow, sepertinya Galbraith benar-benar tahu cara memanjakan penggemarnya yang doyan serial detektif nih!

Intinya, lewat buku ini, Robert Galbraith berhasil menunjukkan bahwa kemampuannya menulis cerita detektif tidak perlu diragukan lagi. Walaupun ini artinya Galbraith harus menggali kreativitasnya lebih dalam lagi untuk menulis lanjutan serial Cormoran Strike berikutnya. Ditunggu deh buku keempatnya hehehe

1 Comment

Filed under Review

The Silkworm: Sisi Gelap Dunia Penerbitan

Judul: The Silkworm (Ulat Sutra)
Penulis: Robert Galbraith
Alih bahasa: Siska Yuanita
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal:  536  halaman
Cetakan pertama: Oktober 2014

Format: Paperback

Skor: 4/5

Seorang novelis bernama Owen Quine menghilang. Sang istri mengira suaminya hanya pergi tanpa pamit selama beberapa hari, seperti yang sering dia lakukan sebelumnya lalu meminta Cormoran Strike untuk menemukan dan membawanya pulang.

Namun, ketika Strike memulai penyelidikan, dia mendapati bahwa perihal menghilangnya Quine tidak sesederhana yang disangka istrinya. Novelis itu baru saja menyelesaikan naskah yang menghujat orang banyak, yang berarti ada banyak orang yang ingin Quine dilenyapkan.

Kemudian mayat Quine ditemukan dalam kondisi ganjil dengan bukti-bukti telah dibunuh secara brutal. Kali ini Strike berhadapan dengan pembunuh keji, yang mendedikasikan waktu dan pikiran untuk merancang pembunuhan yang biadab tak terkira.

Di review The Cuckoo’s Calling, saya menyebutkan kemungkinan buku Galbraith selanjutnya akan lebih dahsyat daripada buku pertama. Yap hal tersebut benar terjadi, buku kedua yang diberi judul The Silkworm (Ulat Sutra) ternyata sukses memberikan kejutan-kejutan yang membuat bulu kuduk berdiri.

The Silkworm masih bercerita tentang detektif partikelir Cormoran Strike dan sekretarisnya; Robin Ellacott yang kali ini dihadapkan pada kasus menghilangnya seorang novelis bernama Owen Quine yang dilaporkan oleh istri Owen; Leonora. Sang novelis diduga menghilang sejak menyelesaikan novel terbarunya berjudul Bombyx Mori; bermakna Ulat Sutra dalam bahasa latin, yang isinya menghujat orang-orang di sekitar Owen.

Ketegangan memuncak saat Owen ditemukan tak bernyawa dengan kondisi tubuh yang mengenaskan. Strike dan Robin pun beraksi mengungkap misteri pembunuhan sadis ini. Mereka mulai diburu waktu, terlebih setelah pihak kepolisian dengan ceroboh menetapkan tersangka yang menurut Strike sama sekali tidak bersalah. Bagaimana kelanjutan ceritanya? Berhasilkah Strike menangkap pelaku sebenarnya?

Terbitnya The Silkworm seolah menghadirkan angin segar bagi penggemar serial Cormoran Strike. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan dari segi isi cerita, alur, konflik, bahkan penyelesaian dari buku ini. Tidak ada lagi penyelidikan bertele-tele, cerita yang menyimpang dari kasus, dan yang paling saya suka yaitu Robin (sekretaris Strike) yang mengambil lebih banyak peran dibandingkan buku sebelumnya. Terlihat bahwa Galbraith mulai menunjukkan kemampuan yang sebenarnya.

Kekurangan The Silkworm menurut saya yaitu banyaknya tulisan yang cenderung kasar dan (sepertinya ini terdengar subjektif) entah mengapa kepolisian Inggris yang ada di dunia Cormoran Strike sepertinya sama sekali tidak berperan penting, bahkan cenderung mengganggu. Seperti pada The Cuckoo’s Calling polisi langsung menetapkan kasus Lula Landry sebagai bunuh diri, padahal bukan. Juga dalam The Silkworm, polisi semakin ceroboh dengan salah menetapkan tersangka. Tidak heran Strike punya hubungan buruk dengan kepolisian Inggris. Entah kecerobohan apalagi yang akan mereka lakukan di buku selanjutnya.

Awalnya saya terkejut karena perubahan ide cerita yang begitu ekstrim, dari kasus pembunuhan supermodel yang terkesan agak tenang dengan alur yang lambat menjadi pembunuhan seorang penulis yang dilakukan dengan brutal dan sadis. Namun, ternyata saya jauh lebih menikmati buku ini daripada buku sebelumnya. Yup, seperti inilah seharusnya novel detektif ditulis! Jadi tidak sabar menunggu kejutan apa lagi yang akan diberikan Galbraith di buku selanjutnya!
Oh ya, saran saya untuk yang akan baca buku ini pertama kali: hindari membaca sambil makan.

Leave a comment

Filed under Review

The Cuckoo’s Calling: Pertaruhan Besar Seorang Robert Galbraith

cuckoo's

Judul: The Cuckoo’s Calling (Dekut Burung Kukuk)
Pengarang: Robert Galbraith
Alih bahasa: Siska Yuanita
Bahasa: Indonesia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal:  517  halaman
Diterbitkan pertama kali : Desember 2013

Format : Paperback

Skor: 3/5

Ketika seorang supermodel jatuh dari ketinggian balkon di Mayfair yang bersalju, polisi menetapkan bahwa ini kasus bunuh diri. Namun, kakak korban meragukan keputusan itu, dan menghubungi sang detektif partikelir, Cormoran Strike, untuk menyelidikinya. Strike seorang veteran perang yang memiliki luka fisik dan luka batin. Hidupnya sedang kisruh. Kasus ini memberinya kelonggaran dalam hal keuangan, tapi menuntut imbalan pribadi yang mahal: semakin jauh dia terbenam dalam kasus ini, semakin kelam kenyataan yang ditemuinya—dan semakin besar bahaya yang mengancam nyawanya…

Sejak duduk di bangku SD (sekarang udah kuliah), saya penggemar berat Harry Potter series karya JK Rowling. Jadi, saat mengetahui JK Rowling menulis buku detektif dengan nama ‘Robert Galbraith’, tanpa pikir panjang saya langsung mencari tahu tentang bukunya, yang menjadi best seller di seluruh dunia; The Cuckoo’s Calling (Dekut Burung Kukuk).

Buku ini bercerita tentang seorang detektif partikelir bernama Cormoran Strike yang menyelidiki kasus pembunuhan Lula Landry, supermodel yang jatuh dari balkon apartemennya. Kasus tersebut dinyatakan polisi sebagai bunuh diri, sampai John Bristow; kakak tiri Lula meminta bantuan Strike untuk menyelidikinya karena yakin Lula tewas bukan akibat bunuh diri. Benarkah Lula Landry dibunuh? Berhasilkah Strike memecahkan kasus pertamanya ini?

Jika melihat dari sinopsisnya, sosok Cormoran Strike hampir dapat dibandingkan dengan Sherlock Holmes: seorang detektif pria super keren yang jago memecahkan kasus sulit. Namun jangan harap JK Rowling a.k.a Robert Galbraith bakal menghadirkan tokoh utama yang menawan dan punya kehidupan yang sempurna.

Cormoran Strike hanyalah seorang detektif swasta dengan ekonomi pas-pasan yang tinggal seorang diri di dalam kantornya di jalan Denmark Street. Kaki kanannya yang diamputasi membuat Strike harus meninggalkan pekerjaannya sebagai tentara Inggris. Belum lagi kehidupan pribadinya yang ikut andil dalam menjadikan Strike orang yang sangat tidak beruntung. Sifat Strike yang cenderung dingin dan kaku barangkali membuat buku ini terasa serius dan membosankan.

Untunglah, Galbraith ikut memunculkan tokoh Robin Ellacott; sekretaris Strike, yang menjadi pemanis buku ini. Sifat Robin yang menyenangkan dan punya rasa keingintahuan tinggi mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca untuk terus mengikuti alur cerita.

Keputusan JK Rowling menggunakan nama baru untuk menulis The Cuckoo’s Caling memang tepat. Gaya bercerita yang berbeda dengan buku-buku sebelumnya seolah memberi kesan bahwa Robert Galbraith dan JK Rowling adalah dua orang yang berbeda. Bahwa novel detektif ini tidak mungkin ditulis oleh penulis 7 buku serial tentang penyihir remaja.

Sayangnya, alur buku ini terlalu lambat dan bertele-tele. Terlalu banyak bagian yang tidak ada hubungannya dengan kasus, terutama bagian yang menceritakan kehidupan pribadi Strike. Hmm mungkin Galbraith bermaksud untuk mendeskripsikan tokoh utamanya secara detail ya, mengingat ini masih buku pertama. Selain itu, kasus yang diangkat pada buku ini masih terasa ‘biasa’ jika dibandingkan dengan novel-novel detektif lain. Mungkin juga Galbraith belum mau menunjukkan kemampuan maksimalnya karena buku ini masih anak bawang hehehe. Siapa tahu buku selanjutnya lebih dahsyat, ya kan?

Intinya, The Cuckoo’s Calling memang belum se-level dengan karya-karya Agatha Christie, namun cukup menunjukkan eksistensi Robert Galbraith sebagai penulis novel detektif baru di dunia.

Leave a comment

Filed under Review

Review: Underground by Ika Natassa

underground

Kesal.
Itu kesan pertama gue saat baca buku ini. Bukan, ini bukan masalah Bahasa Inggris nya, ini tentang isi ceritanya. Guess I had some serious problems with it at first:
1) Tokohnya banyak. And by “banyak” I mean “banyaaaaaaaaaaak”. Sampe lupa2 inget hubungan antar tokohnya. Dan saking banyaknya, pas di tengah cerita sampe ada scene yg typo salah nyebut nama tokoh. Lol I found it!

2) CMIIW, POV novelnya dari Liv, kan? Terus tiba2 ada dialog Aaliyah, Kobe, & baby sitternya di rumah Aaliyah yg gak mungkin didenger Liv (si POV). Atau saat Stefan & Alisha ngedate, dialog Stefan & Steve, dll. Jadi mau pake sudut pandang org pertama atau ketiga serba tahu atau gimana? Sorry kalau terdengar berlebihan, but it bothered me a lot.

4) Masih nyambung dengan no. 3 sih, tapi gue nemu ini udah di tengah2 buku (hal 246). Jadi ada scene Shareef & Micha ngobrol di NYU ngomongin Aaliyah (Yep, Liv wasn’t even there). Setelah mereka selesai ngobrol-tanpa ada pembatas cerita (entah apa itu namanya)-tiba2 scene berganti ke Stefan yg lagi road trip nyetel CD Green Day. Wait, what?

5) Oke, yg ini murni salah gue. Gue susah banget nangkep jokes dari tokoh2 ini di awal. Like when they discussed something & they suddenly laughed, and I was like, guys what are you laughing at?! What’s so funny??? Guys? Guuuyysss???? *cried desperately*

Untunglah kau ini buku PO, nak… *elus2 halaman spesial ber-ttd kak Ika*

Gue baru mulai ‘masuk’ ke cerita di halaman 50an. Ceritanya mulai seru krn muncul konflik dimana-mana. If it wasn’t for my skripsheet proposal, I wouldn’t put this book down. I really enjoyed it, so I guess I can take it easy on those issues I mentioned at first paragraph. Okay, so these are some plus points I found in Underground:
1) This is important. First Claire, then Liv, Heather…. Well, what’s wrong with the pooping thing? Hahahaha (and I’m creepy enough to remember all ‘buang hajat’ scenes in this book)
“Why do you girls have to go poop all the time?” Jared said.
Because we need to, Jared. We. Need. To.

2) I found it hilarious that Kak Ika used “Tiiiit tiiiit”, “Niiiiit”, “Treeek”, “Plak!”, etc instead of ‘The bell suddenly rang’ or something like that.

3) Is it lame if I laughed at Liv’s joke about BMW & chicken?

4) I would like to see the visual version of Stefan, I mean Stephanie Bradley Marciano in a dress. Thank you.

5) The Mardi Gras road trip reminds me of Quentin’s road trip in Paper Towns. Those are my fav parts! Yes, the Valentine’s Day part is included too hehehe

6) Gue lebih familiar dgn lagu2 & penyanyi2 yg disebutkan di buku ini daripada di buku2 Kak Ika yg lain. Dan ini lagu2 jadul semua. Duh apa selera musik gue makin jatuh seiring bertambahnya umur ya 😦

7) I surprised how tragic Will & Sarah ‘s love story turned out. Lah ini seriusan jadi begini? Sampe hilang kantuk gue pas baca bagian ini (gue baca tengah malem)

8) Semakin mendekati akhir cerita, gue makin geregetan dgn Liv & Stefan yg susah banget buat balikan. Masnya marah2 mulu, terus mbaknya keras kepala, kelar udah. Gemes pengen ngeskip cerita ke bagian yg ada mereka aja hahaha (didn’t do that anyway). Daaan endingnya berhasil bikin gue senyum2 gak jelas jam 3 pagi. Guess I’m satisfied with the ending *peluk mz Stefan*

9) Tokoh favorit gue di buku ini, well siapa lagi kalo bukan Stefan. Lol, you guys know why. Dan siapapun yg menganggap Stefan ini Harris versi NYC, sorry gue gak setuju, krn nasib Harris lebih apes daripada Stefan.

Jadi, menurut gue, membaca Underground itu unik. At first, I got confused a lot that I thought I should stop reading this, but then it gave me more and more reasons to finished it til I became a fan of its story.
Although I still found some typos; no big deal, I can read it with no problem. Bahasa Inggris nya gampang dan kosakata yg digunakan  juga gak sampe bikin gue harus buka kamus hahaha. Menurut gue, ini bisa jadi solusi buat org2 yg komplain “Kak Ika kok kalo nulis campur2 sih bhs inggris & indonesia nya?” Guys, seriously? Nih baca Underground, paling konsisten, full english, gak campur2!

Sebelum baca ini, gue udah baca CE, AR, Twivortiare 1&2. And this one’s not my most fave actually. Buku ini boleh jadi karya Kak Ika yg pertama, tapi buku favorit gue tetep Critical Eleven dan tokoh favorit gue tetep Harris Risjad. Since I gave 5 stars to CE & 4 stars to AR, maybe 3 stars are enough for Underground? Maafin aku, kak Ika 😦 😦 😦

Leave a comment

Filed under Review